AIR BEKAS PEMANDIAN JASAD RASULULLAH SAW

AIR BEKAS PEMANDIAN JASAD RASULULLAH SAW.

Salah seorang santri Rubath Tarim li al-Habib Salim bin Abdullah asy-Syathiri, Ustadz Mochammad Nuzulul Bawwakiel Muttaqien, suatu hari mengkisahkan tentang “Air pemandian Rasulullah Saw.”
Alkisah, asy-Syaikh al-Fadhil Mutwalli asy-Sya’rawi pernah diundang untuk menghadiri sebuah acara muktamar di Arab. Dalam majelis muktamar tersebut, asy-Syaikh mengajukan pertanyaan yang tidak pernah disangka oleh semua hadirin, terutama pimpinan muktamar. Beliau bertanya: “Ke manakah air bekas pemandian jenazahnya Rasulullah Saw.?”
Semua hadirin seperti terbungkam, tidak ada satu pun ulama yang menjawabnya. Hingga pimpinan muktamar berkata: “Ya Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi, pertanyaan ini perlu jawaban dan pembahasan. Aku akan menjawabnya pada pertemuan mendatang.”
Sepulang dari muktamar, pemimpin majelis muktamar itu menjadi gelisah. Dengan segala kemampuannya dicarilah dalalah dan kisah atau riwayat yang menunjukkan tentang “Ghusalah”, air bekas pemandian jasad Rasulullah Saw. itu.
Namun semua kitab pun tanpa bergeming dan enggan memberikan jawban. Di tengah kecapekannya, tertidurlah pemimpin majelis muktamar itu. Dan di dalam mimpinya ia bertemu Rasulullah Saw. yang sedang bersama seorang lelaki agung, membawa sebuah qindil (lentera). Sang pemimpin muktamar sangat senang sekali dan berkata: “Ya Rasulullah, ke manakah air bekas pemandian jasad Tuan Saw.?”
Rasulullah Saw. tersenyum dan menjawab: “Bertanyalah kepada shahibul qindil” (sembari menunjuk lelaki yang membawa lentera).
Maka bertanyalah sang pemimpin majelis muktamar kepada lelaki itu, dan dijawab dengan suara yang halus dan jelas: “Air bekas pemandian jasad Rasulullah Saw. naik ke langit, kemudian turunlah air itu ke bumi. Tidak akan jatuh percikan air itu di bumi kecuali Allah menjadikannya sebuah masjid.”
Terbangunlah sang pemimpin muktamar itu dengan wajah berseri dengan ditemukannya jawaban dari pertanyaan Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi. Dan ketika pertemuan muktamar dilanjutkan, sang pimpinan muktamar itu berkata kepada Syaikh asy-Sya’rawi: “Aku telah menemukan jawaban dari pertanyaan Anda ya Syaikh.”
Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi menyahut: “Apakah itu jawaban dari shahibul qindil?”
Pemimpin muktamar itu bertanya: “Apakah Anda mengetahuinya?”
Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi berkata: “Akulah shahibul qindil itu.”
Silakan halal dicopas atau dishare. Mari bacakan surat al-Fatihah dan shalawat, Allahumma shalli wasallim wabarik 'ala Sayyidina Muhammadin wa'ala Aalihi wa Shahbihi ajma'in.

SUMBER

Puisi Gus Mus (KH.Musthofa Bisri) menyindir pemahaman wahabi



Puisi Gus Mus (KH.Musthofa Bisri) menyindir pemahaman wahabi.

KAU INI BAGAIMANA ATAU AKU HARUS BAGAIMANA ?
* Aku pergi tahlil, Kau bilang itu amalan jahil…
* Aku baca Shalawat burdah, Kau bilang itu bid’ah…
LALU AKU HARUS BAGAIMANA?
* Aku bertawasul dengan baik, Kau bilang aku musyrik…
* Aku ikut majelis dzikir, Kau bilang aku kafir…
LALU AKU HARUS BAGAIMANA?
* Aku sholat pakai lafadz niat, Kau bilang aku sesat…
* Aku mengadakan maulid ,kau bilang tak ada dalil yg valid…
* Aku gemar berziarah, Kau bilang aku alap-alap berkah…
* Aku mengadakan selametan, Kau bilang aku pemuja setan…
LALU AKU HARUS BAGAIMANA ?
* Aku pergi yasinan, Kau bilang itu tak membawa kebaikan…
* Aku ikut tasawuf sufi, malah kau suruh aku menjauhi…
YA SUDAHLAH ….. AKU IKUT KALIAN ….
* Kan kupakai celana cingkrang biar kau senang…
* Kan kupanjangkan jenggot agar dikira berbobot…
* Ku hitamkan jidad agar dikira ahli ijtihad…
* Aku akan sering menghujat biar dikira hebat…
* Aku akan sering mencela biar dikira mulia…
YA SUDAHLAH … aku pasrah pada Allah yg kusembah…

SINGA PUN TUNDUK KEPADA HABIB UMAR BIN HAFIDZ

SINGA PUN TUNDUK KEPADA HABIB UMAR BIN HAFIDZ

“Dakwah Al-Habib Umar bin Hafidz di Afrika
Dihadang oleh Singa!”
Suatu saat al-Habib Umar bin Hafidz ingin
melakukan perjalanan dakwah ke pedalaman Afrika.
Ketika itu beliau ditemani oleh seorang muallaf
bernama Khomis. Khomis adalah salah satu diantara
orang-orang yang masuk Islam melalui perantara
tangan al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad
dan sering membantu kegiatan dakwah beliau selama
di daerahnya.
Pedalaman Afrika yang ingin dikunjungi oleh
al-Habib Umar harus melewati hutan belantara, yang
mana hutan belantara Afrika terkenal akan hewan
buasnya. Tapi dengan mantap Habib Umar bin Hafidz
memberikan isyarat untuk segera berangkat.
Dimulailah perjalanan dakwah beliau. Sebelum
masuk ke dalam hutan, beliau beserta rombongan
dihentikan oleh beberapa orang polisi yang sedang
berjaga di sebuah pos dekat dengan hutan yang ingin
dilalui oleh al-Habib Umar. Mereka hendak
memperingatan agar al-Habib Umar tidak memasuki
hutan karena hari sudah malam. Ditakutkan beliau
dan rombongan akan diserang oleh beberapa hewan
buas yang keluar untuk mencari mangsa di saat
malam tiba.
Al-Habib Umar pun keluar dari mobil yang
ditumpanginya dan berdiri di samping mobil tersebut.
Serta merta al-Habib Umar memerintahkan seseorang
untuk menggelar tikar di dekat mobil dan
memerintahkan rombongan untuk membaca Maulid
al-Habsyi (Simthud Durar). Pembacaan maulid pun
dimulai. Karena para polisi yang berjaga di pos itu
beragama Kristen, mereka pun hanya bisa menonton
dari kejauhan.
Setelah pembacaan maulid selesai, al-Habib
Umar mendapat isyarat untuk melanjutkan perjalan
malam itu juga. Para polisi itu tetap berusaha untuk
mencegahnya, tapi al-Habib Umar bersikeras ingin
melanjutkan perjalanannya. Para polisi pun kalah
argumen dan berinisiatif untuk mengikuti al-Habib
Umar dari belakang menggunakan mobil lain, takut
kalau tejadi apa-apa dengan al-Habib Umar dan
rombongan.
Di tengah perjalanan hal yang
dikhawatirkanpun terjadi. Di depan mobil yang
ditumpangi oleh al-Habib Umar, muncul seekor singa.
Ketika itu al-Habib Umar duduk di kursi depan.
Mulailah singa itu mengitari mobil tersebut. Walaupun
demikian sang Habib tetap tenang, berbeda dengan
rombongan lain yang mulai menunjukkan rasa
ketakutannya.
Tak lama kemudian singa itu berhenti di depan
jendela sebelah tempat duduk al-Habib Umar, lalu
menaikkan kaki depannya ke atas jendela. Al-Habib
Umar pun tetap tenang tanpa menunjukkan rasa
ketakutan sedikitpun. Lalu beliau berkata kepada
supir: “Turunkan jendela ini!”
Supir pun menjawab dengan ketakutan: “Ya
Habib, ini singa!”
Tapi al-Habib Umar tetap ingin agar dia
menurunkan jendela tersebut. Kaca jendela pun
diturunkan.
Dan Suatu kejadian menakjubkan pun terjadi,
al-Habib Umar mengajak bicara singa tersebut! “Hai
singa! Kami ini adalah utusan Rasulullah Saw.”
Kemudian al-Habib Umar mengambil sebuah
pisang dan memberikannya kepada singa itu. Singa
yang biasanya makan daging, kali ini mau memakan
pisang yang diberikan al-Habib Umar. Setelah
memakan pisang itu, singa mengangguk-anggukkan
kepalanya lalu pergi meninggalkan al-Habib Umar dan
rombongan. Perjalanan pun kembali dilanjutkan. Tak
lama kemudian al-Habib Umar dan rombongan sampai
ke tempat tujuan.
Setelah menyaksikan kejadian yang luar biasa
itu, para polisi yang sebelumnya beragama Kristen
itupun ingin mengikrarkan diri mereka untuk masuk
agama Islam. Ternyata kejadian yang mereka saksikan
menjadi sebab hidayah Allah Swt. yang ingin
mengembalikan mereka ke dalam pelukan Islam.
Diculik dan diedit dari tulisan KH. Mukhlas Noer
(Ketua Ponpes Lirboyo Kediri).
Kisah ini juga pernah
disinggung oleh almarhum al-Habib Mundzir bin Fuad
al-Musawa.

ISLAM NUSANTARA MENURUT HABIB MUHAMMAD LUTHFI BIN YAHYA



ISLAM NUSANTARA MENURUT
MAULANA AL HABIB MUHAMMAD LUTHFI BIN YAHYA


Sebenarnya maksudnya Islam di Nusantara, bukan
merupakan ajaran atau aliran sendiri. Jadi bagaimana
mewarisi Islam yang telah digagas atau dikembangkan para
wali-wali dulu. Islam di belahan bumi Indonesia itu punya
karakteristik sendiri yang unik. Kalau saja Wali Songo itu
tidak coba beradaptasi dengan lingkungan sekitar ketika
Hindu dan Budha masih menjadi agama mayoritas, mungkin
kita tidak bisa menyaksikan Islam yang tumbuh subur seperti
sekarang ini.
Inti Indonesia adalah terletak pada rasa persatuan dan
kesatuan. Rasa inilah yang agaknya menjadi barang mahal
dan sulit sekarang ini. Rasa itu sesungguhnya yang
membingkai keberadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik
Indonesia). Karenanya tugas kita bagaimana terus menjaga
NKRI ini dan mengukuhkan Persatuan Bangsa dan Negara.
Indonesia itu tidak disukai kalau ekonominya maju. Karenanya
selalu ada upaya eksternal (asing) untuk memperlemah
ekonomi Indonesia. Sekaligus terus mengancam NKRI. Ketika
gagal melemahkan dari sisi ekonomi, dilemparlah isu Sunni-
Syiah. Begitu merasa gagal dengan isu itu kemudian konflik
antar umat beragama seperti insiden di Tolikara Papua.
Intinya cuma satu: MEMECAH BELAH NKRI.
Laut itu punya jati diri, pendirian, dan harga diri. Sehingga
betapapun zat yang masuk ke dalam laut melalui sungai-
sungai yang mengalir kepadanya, keasinan air laut tidak akan
terkontaminasi. Karena laut itu bisa mengantisipasi limbah-
limbah yang masuk. Ikan yang berada di dalam laut pun juga
demikian. Ia tetap tawar dan tidak terkontaminasi oleh
asinnya air laut. Sedangkan air laut sendiri tidak
mengintervensi ikan yang ada di laut. Keduanya mempunyai
jati diri yang luar biasa dan bisa hidup bersama, serta saling
menghargai dalam “ideologinya” masing-masing.
Dalam hidup berbangsa dan bernegara, laut adalah contoh
konkret. Jati diri bangsa, harga diri bangsa, kehormatan
bangsa tetep punya kepribadian yang luar biasa, dan kedua-
duanya dapat hidup bareng dengan harmoni. Kalau kita bisa
meniru kehidupan yang ada di laut, maka bangsa ini akan
aman dan enggak bakal ruwet.
Perlu ditegaskan disini bahwa Islam Nusantara tidaklah anti
budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari
Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam
Nusantara tetaplah berpijak pada aqidah tauhid sebagaimana
esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Arabisasi
bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran
karakteristik Islam Nusantara bukanlah respon dari upaya
Arabisasi atau percampuran budaya Arab dengan ajaran
Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah
keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal
sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam.


Salah Satu Kunci Keberkahan Hidup


Salah Satu Kunci Keberkahan Hidup

Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Ba’Alawy Pekalongan, Ketua Jam'iyyah Ahlut Tariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMN), organisasi di bawah NU yang mengkoordinasi jemaah tarekat Mu'tabarah.

Seorang muslim agar mendapatkan keselamatan Insya ALLAH, di dalam agama, dunia dan akhirat haruslah memegang teguh beberapa prinsip ini.
Pegang teguh teladan salaf shalihin
Baik itu thariqah-nya, akhlaknya, amal salehnya. Pegang teguh dan kuat mantap, walaupun kamu sampai sulit dan kere (sangat miskin) tetaplah teguh memegang teladan Salaf Shalihin. Gigit kuat dengan gerahammu, jangan dilepas jika kamu ingin selamat dan mendapat ridho-Nya. Jadikanlah keimanan sebagai Imam bukan akal yang menjadi ujung tombaknya. Hati-hati di akhir jaman ini, akan dan sudah banyak muncul paham dan orang-orang yang lebih mengedepankan akal-rasio-logika dibandingkan imannya. Seharusnya Iman menjadi imamnya, akal & logika menjadi makmumnya, mengikuti iman. Tinggalkan pendapat orang-orang yang mengedapankan akalnya dibanding imannya. Percuma dan sia-sia waktumu jika menanggapi orang-orang yang demikian, kamu akan rugi dunia akhirat. Karena bagaimana mungkin akal manusia bisa menerima seluruh kebesaran khazanah kerajaan Allah SWT, hanya keimanan yang dapat menerima kebesaran AllahSWT. Ziarah shalihin.
Baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup, dan kuatkan tali ikatan silaturahim. Berziarah (mengunjungi) kaum shalihin jangan hanya ketika ada maunya, kalau ada perlunya saja. Hal itu baik tidak terlarang, tetapi kurang kemanfaatannya untuk jangka panjang. Hanya untuk kebutuhan-manfaat sesaat belaka, sungguh sangat disayangkan. Tetapi alangkah baiknya kita berziarah sholihin itu karena mahabbah ilaa mahbub, kecintaan kepada yang dicintai. Kalau hal ini dijalin dengan baik maka ia akan mendapat limpahan madad (pertolongan), sirr asrar (rahasia) dan jaah (essence, intisari) dari ziarahnya. Dan sering silaturahmi itu menimbulkan kecintaan dan keridhoan Allah SWT kepada orang yang menjalin hubungan silaturahmi, sehingga rahmat dan berkah serta maghfirah Allah SWT terlimpah kepadanya. Jauh dari bala’, musibah, penyakit dan diberi kelancaran rezeki. Insya Allah.


sumber

Keistimewaan Habibana Munzir Setiap malam bersama Rosulullah

SETIAP MALAM BERSAMA RASULULLAH SAW

AlKisah Al Allamah Al Musnid Habib Zein bin Ibrahim bin Smith (Madinah ) dengan Al Maghfurlah Assayyid Habibana Munzir Al-Musawa Alaihi Rahmatullah(Jakarta ) :
Kalau bukan karena ingin menyemangati, saya tak akan menjawabnya, Ruh beliau Nabi Muhammad SAW tak pernah tidak hadir dalam Majelis Maulid Dhiya ullami, banyak para jamaah bermimpi melihat Ahlul Badr, Ahlul Uhud, Para Wali masa lalu, bahkan para Nabi, hadir di majelis dhiya ullami, dan Ruh Rasul saw sudah ada sebelum 1 orang pun sampai, dan tidak keluar sebelum tak tersisa satu orang pun.
Ketika Habib Munzir bin fuad al musawa di pesantren al khairat Bekasi, pimpinan Habib Naqib bin syeich Abu Bakar bin Salim, beliau di tempatkan terpisah dari santri-santri lainnya. Beliau di tempatkan di rumah habib naqib dan di taruh di kamar atas. Kamar khusus. Padahal kamar tersebut khusus untuk tamu-tamu mulia seperti Al Arif Billah Abuya Muhammad bin Alwi Almaliki, Al Arif Billah Habib Zein bin Smith (Madinah), Al Arif Billah Habib Salim As Syatiri (rubat tarim), Al Arif Billah Habib Zein bin Smith (Madinah)
Ketika saya sudah lama bertahun tahun tidak jumpa dg Habib Zein bin smeith madinah, karena beberapa kali beliau ke indonesia saya tak sempat jumpa, maka ketika jumpa saya tertunduk tunduk mencium tangan beliau, maka Habib zein dg santainya berkata Ahlan wahai Munzir....
Saya berkata : wahai Habibana Zein, bagaimana habib masih kenal nama saya padahal saya lama tak jumpa habibana?, beliau menjawab : bagaimana aku lupa namamu, kau tiap malam ada dihadirat Rasulullah SAW. Hampir saya jatuh pingsan mendengar ucapan itu, dan beliau dg santainya pergi begitu saja menghadapi tamu tamu lain.
Wallahu`alam
Pahala agung, ketika anda rindu pada Rasul saw, saat itulah Rasul saw sedang rindu pada anda, saya mempunyai teman disuatu wilayah yg sangat rindu dg Rasul saw dan terus menangis jika mendengar kisah Rasul saw, namun ia belum juga mimpi Rasul saw,
lalu saya bermimpi, katakan pada pemuda itu tiap kalau ia menangis merindukanku, aku ada disampingnya, dan aku tidak meninggalkan ranjangnya sampai ia tidur pulas.., namun ketentuan pertemuan adalah ditangan Allah swt.
Orang yg rindu pada Rasulullah SAW maka ia telah dirindukan oleh Rasulullah SAW. اللهم صل على سيدنا و حبيبنا و شفيعنا و قرة أعيننا و مولانا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Wallahu`alam
“Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad nuuri-kas saari wa madaadikal jaari wajma’nii bihi fi kulli athwaari wa ‘ala alihi wa shahbihi yannuur”
dan jangan Lupa membaca Al-qur'an, jangan lewatkan seharipun tanpa membaca Al-qur'an jadikan bacaan yg paling anda senangi, berkata Imam Ahmad bin Hanbal, Cinta Allah besar pada pecinta Alqur'an, dengan memahaminya atau tidak dg memahaminya.

Maqam Mbah Kyai Sindujoyo.

Maqam Mbah Kyai Sindujoyo.

Letak Desa Klangonan .Kebomas . Gresik. Jawa Timur .

SOSOK KYAI SINDUJOYO, SANTRI SUNAN PRAPEN
Nama asli dari SINDUJOYO adalah PANGASKARTA, putra dari KYAI KENING, berasal dari dusun KLATING – LAMONGAN. Kehidupannya suka berkelana untuk mencari dan menuntut ilmu agama. Atas doa restu bapak dan ibunya, SINDUJOYO pergi ke Pondok Pesantren SUNAN PRAPEN di Giri Prapen Gresik.
Dalam menuntut ilmu, rupanya SINDUJOYO telah mendapat gemblengan bermacam-macam ilmu diantaranya Ilmu Syari’at, ilmu Tarekat, ilmu Ma’rifat dan ilmu lain-lainnya. Disamping itu SINDUJOYO berkenalan dengan salah satu santri SUNAN PRAPEN bernama IMAM SUJONO, putra dari KYAI KADIM dan dianggap seperti saudara sendiri.
Setelah keduanya mendapat gemblengan ilmu yang cukup, mereka melanjutkan perjalanannya untuk berkelana lagi, naik gunung turun gunung dan bertemu 2 orang asing lagi. Yang satu bernama SALAM dan satunya bernama SALIM. Saking akrabnya mereka berdua dianggap saudara sendiri (mereka menjadi 4 bersaudara). Setelah mereka berunding dan musyawarah 4 bersaudara tadi terus berkelana mencari tempat yang tenang untuk bertapa dan bertirakat untuk memohon kepada Allah SWT, tak terasa mereka berempat sudah 3 bulan berada di gua SIGOLO-GOLO, Sragen – Jawa Tengah.
Datanglah 2 orang utusan dari SUNAN AMANGKURAT KERTASURA Jawa Tengah untuk minta tolong dan berkenan mengikuti sayembara di BANYUMAS. Akhirnya mereka berempat berhasil memenangkan sayembara dan sekaligus berhasil menangkap TUMENGGUNG BANYUMAS yang terkenal congkak dan sombong. Setelah berhasil 4 bersaudara diberi hadiah berupa seekor KERBAU yang berkulit abu-abu (KEBO BULE), disamping itu juga mendapat gelar SINDUJOYO dari SUNAN AMANGKURAT KERTASURA. Selanjutnya 4 bersaudara pamit ingin pulang kembali.
Suatu saat SINDUJOYO mencari ikan di laut (NYODO), SINDUJOYO melihat rombongan prajurit NGAMPEL naik perahu, lalu ikut naik dibelakang perahu (namanya CANTEK PERAHU). Dalam peperangan tadi prajurit NGAMPEL mengalami kekalahan dan minta tolong pada SINDUJOYO. Maka berangkatlah rombongan prajurit NGAMPEL dipimpin SINDUJOYO menuju daerah Gumeno dan beristirahat di masjid Gumeno.
Tak lama kemudian SINDUJOYO memukul beduk masjid Gumeno sebagai tanda ada peperangan. Maka terjadilah peperangan dan SINDUJOYO berhadapan langsung dengan KIDANG PALIH sebagai panglima prajurit Gumeno, dan SINDUJOYO berhasil memenangkan peperangan dan sekaligus berhasil membunuh KIDANG PALIH dan istrinya.
Atas kemenangan itu SINDUJOYO mendapat hadiah seekor kerbau kecil kurus dan tak lama meninggal (mati). Akhirnya SINDUJOYO masuk ke dalam tubuh kerbau dan terhanyut di laut, kemudian tersangkut dan berhenti di Karang Pasung – KROMAN.
Dalam kehidupannya sebagai nelayan suatu saat SINDUJOYO melihat seekor buaya kecil terjepit dipohon, dengan hati yang tulus dan ikhlas dia menolong dan memasukkan kembali ke dalam laut. Ternyata buaya kecil yang ditolong SINDUJOYO itu adalah anak dari SI REMENG (Buaya milik KYAI SINDUPATI DERMALING – Bangkalan Madura).
Dalam berkelana SINDUJOYO berkenalan dengan SURO GARJITO PELANG, dan sepakat pergi dan bertemu dengan PANGERAN NGAMPEL. Setelah bertemu SINDUJOYO mendapat hadiah dari PANGERAN NGAMPEL berupa : Selembar kain Sabuk (Ikat Pinggang), Baju Kebesaran, Pusaka Keris, Kuluk (Kopyah) merah dan disuruh untuk menetap di Karang Pasung Kroman.
Suatu saat SINDUJOYO kedatangan tamu SINDUPATI dengan diantar SI REMENG untuk menyampaikan terima kasih dan meminta tolong, karena SINDUPATI akan mengikuti Sabung Ayam (adu ayam) di Mengare. Kemudian SINDUJOYO member palu, dan berpesan jika sampai di daratan Mengare gosoklah (eluslah) sebanyak 3 kali sambil berkokok maka berubahlah palu itu menjadi seekor ayam. Maka terjadilah sabung ayam antara si PALU milik SINDUPATI dengan ayam si GONGSO milik KYAI MENGARE dengan taruhan. Akhirnya ayam si PALU menang dan ayam si GONGSO hancur berkepingkeping menjadi gongso.
Kemudian SINDUPATI menceritakan ayamnya adalah pemberian dari SINDUJOYO, karena tertarik akhirnya Kyai MENGARE ingin bertemu dengan SINDUJOYO. Lantas SINDUJOYO menganggap semua tamu yang dating ke rumahnya dianggap seperti saudara sendiri dan berpesan sambil berdoa bersama semoga warga di sekitar Kroman kelak dijadikan oleh Allah suka bershodaqoh sambil mengadakan selamatan nasi tumpeng dengan ikan yang bermacam-macam (ada ayam panggang dan ikan-ikan lainnya), juga sayur-sayuran, jajan pasar, ketan 4 macam (merah, kuning, hitam dan putih) dan dilaksanakan satu tahun sekali. Juga berdoa semoga semua nelayan diberikan rejeki ikan yang cukup serta berkat kuat dan selamat dari Allah SWT.
Kepribadian sosok SINDUJOYO yang Nampak dan sangat menonjol antara lain :
• Hidupnya suka berkelana untuk mencari, menambah dan menuntut ilmu Agama Islam,
• Budinya sangat halus dan sabar,
• Tinggi andap asornya (tinggi sopan santunnya),
• Tidak suka mengumbar bicara (ngomong) dan dalam berbicara nadanya pelan dan halus,
• Suka menolong terutama dalam menghadapi bahaya dan kesombongan,
• Suka berdoa dan munajat kepada Allah SWT, baik untuk dirinya, keluarganya maupun untuk anak cucunya.
Sumber : Babad SINDUJOYO
Penulis Buku : Kyai TARUB
Penulis Gambar Buku: Kyai BUDER – Sukodono Gresik.
Ditulis Pada : Gajah = esti = 8, pepitu = 7, sapta = 7 tunggal = 1 maka berarti menunjuk tahun jawa 1778 atau bertepatan dengan tanggal 21 Juli 1850 M

Sumber

KISAH LELUHUR HABIB LUTHFI BIN YAHYA

KISAH PERJUANGAN LELUHUR HABIB LUTHFI BIN YAHYA (RADEN TUMENGGUNG SUMODININGRAT) MELAWAN PENJAJAH BELANDA Nama asli beliau adalah al-All...